Fintech World Forum 2018, 21-22 November, London
September 9, 2018

Inklusi Keuangan Didorong Naik Jadi 75 Persen pada 2018

Apa Itu Inklusi Keuangan?

OJK mencanangkan bulan Oktober lalu sebagai bulan Inklusi Keuangan.

Pemerintah melalui Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan sedang berusaha meningkatkan inklusif keuangan dan literasi keuangan. Sebenarnya apa itu inklusif keuangan dan literasi keuangan? Serta apa saja manfaatnya?

Inklusif keuangan (financial inclusive) merujuk pada jumlah orang yang menjadi nasabah atau pengguna jasa keuangan di Indonesia. Jasa keuangan itu ada banyak jenisnya, misal : menyimpan uang yang aman, transfer, pinjaman, investasi dan asuransi.

Bank Indonesia (BI) membuat sebuah kebijakan untuk meningkatkan inklusif finansial yang disebut dengan : kebijakan keuangan inklusif. Kebijakan tersebut berbentuk pendalaman layanan keuangan (financial service deepening) yang menyasar orang-orang kelas menengah bawah. Jadi layanan keuangan di Indonesia tidak hanya untuk kelas menengah atas, tetapi juga kelas menengah bawah. Setiap Warga Negara Indonesia berhak untuk mendapatkan kemudahan akses terhadap produk finansial. Bank Indonesia memiliki sebuah indeks yang bertujuan untuk mengukur tingkat inklusif keuangan yang disebut degan IIK – Indeks Inklusif Keuangan. IIK terdiri dari tiga variabel utama yaitu : akses (access), penggunaan (usage) dan kualitas (quality).

Kondisi inklusif keuangan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  • Meningkatkan efisiensi ekonomi.
  • Mendukung stabilitas sistem keuangan.
  • Mengurangi shadow bankingatau irresponsible finance.
  • Mendukung pendalaman pasar keuangan.
  • Memberikan potensi pasar baru bagi perbankan.
  • Mendukung peningkatan Human Development Index(HDI) Indonesia.
  • Berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional yang berkelanjutan.
  • Mengurangi kesenjangan (inequality) dan rigiditas low income trap, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya berujung pada penurunan tingkat kemiskinan.

Dalam hal finansial, literasi keuangan dapat diartikan sebagai kecakapan atau kesanggupan dalam hal keuangan. Otoritas Jasa Keuangan pernah mengadakan survei pada tahun 2013 untuk menilai tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia. Hasil dari survei tersebut adalah :

Pelaksanaan Edukasi dalam rangka meningkatkan keuangan masyarakat sangat diperlukan karena berdasarkan survei yang dilakukan oleh OJK pada 2013, bahwa tingkat literasi keuangan penduduk Indonesia dibagi menjadi empat bagian, yakni:

Well literate (21,84 %), yakni memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan. Sufficient literate (75,69 %), memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan. Less literate (2,06 %), hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan. Not literate (0,41%), tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, serta tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Literasi keuangan (financial literacy) adalah hal penting yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Seseorang dengan literasi keuangan yang baik (well literate), akan mampu melihat uang dengan sudut pandang yang berbeda dan memiliki kendali atas kondisi keuangannya. Orang tersebut akan tahu apa yang harus dilakukan dengan uang yang sedang dimiliki, akan dimiliki dan bagaimana cara memanfaatkan uang agar dirinya tidak diperbudak oleh uang.

Presiden Joko Widodo telah menargetkan angka inklusi keuangan Indonesia mencapai 75 persen pada tahun 2019 mendatang. Adapun hingga tahun 2014, tingkat inklusi keuangan Indonesia masih mencapai 36 persen. Oleh karena itu, pemerintah menyatakan serius dalam berkomitmen mendorong inklusi keuangan. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat menerima Ratu Maxima dari Kerajaan Belanda, yang merupakan utusan khusus Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk Inklusi Keuangan. Darmin menyampaikan apresiasinya atas kunjungan kedua Ratu Maxima dalam rangka meningkatkan inklusi keuangan di Tanah Air.

Kunjungan Ratu Maxima kali ini ke Indonesia bukan yang pertama kali. Sebelumnya, pada tahun 2016 Ratu Maxima juga datang ke Indonesia. Menurut Darmin, terlepas dari kunjungan pertama Ratu Maxima, Indonesia telah mencapai kemajuan signifikan dalam inklusi keuangan. “Pencapaian kami adalah diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI),” kata Darmin dalam keterangan resminya, Selasa (13/2/2018). Dalam mencapai target tersebut, lanjut Darmin, pemerintah telah menetapkan tujuh pilar SNKI yaitu pendidikan keuangan, hak kepemilikan warga negara, fasilitas intermediasi dan saluran distribusi, jasa keuangan di sektor pemerintahan, perlindungan konsumen, peraturan, serta infrastruktur.

Darmin menjelaskan dari pilar Hak Kepemilikan Warga Negara, sebanyak 4,2 juta sertifikat tanah diterbitkan sepanjang 2017. Pemerintah sendiri berkomitmen untuk mempercepat sertifikasi tanah lebih banyak lagi. Hal ini bertujuan untuk menerbitkan 7 juta sertifikat tanah pada 2018 dan 9 juta sertifikat tanah pada tahun 2019, seperti yang diinstruksikan oleh Presiden Jokowi “Tahun 2018 targetnya naik jadi 7 juta dan tahun 2019 menjadi 9 juta. Di tahun 2020, kita berharap semua tanah sudah disertifikasi,” ungkap Darmin. Ditunjuk sebagai Utusan Khusus PBB, Ratu Maxima bertugas mempromosikan pentingnya inklusi keuangan secara global untuk mencapai tujuan pembangunan ekonomi.

Pesan utamanya adalah inklusi keuangan mampu  mempercepat kemajuan untuk mencapai sejumlah prioritas nasional seperti pengurangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, keamanan pangan, persamaan gender dan pertumbuhan yang seimbang.

-diambil dari berbagai sumber-